Pages
March 2010
M T W T F S S
« May    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Slideshow
Get the Flash Player to see the slideshow.
Gallery
jembatan-lembah-anai.jpg jam-gadang.jpg lobang-jepang.jpg taman-burung.jpg jenjang-seribu.jpg kera-panorama.jpg

Sejarah Kebun BInatang Bukittinggi

May 27th, 2009

          Bukittinggi adalah salah satu kota yang diakui memiliki peran dan pengaruh dalam perjalanan sejarah Indonesia. Penulisan sejarah kota ini telah diusahakan oleh berbagai peneliti yang membahas aktifitas sosial ekonomi, politik. Sebagai bagian daerah darek di Sumatera Barat, kota ini mulai memiliki nilai lebih dan diutamakan sejak Belanda mulai aktif menekan pihak Paderi dimasa berkecamuknya Perang Paderi 1821-1837. Dan pada tahun 1888, Belanda mengusahakan perluasan kota ini, yang mencapai 75% dari daerah Kanagarian Kurai Limo Jorong.


         Sebuah keunikan yang jarang dikaji dan ditulis seiring dengan perjalanan sejarah Kota Bukittinggi adalah sejarah objek wisata kebun binatang Bukittinggi, yang bila dilakukan penelitian lebih lanjut dapat dilihat bahwa munculnya kebun binatang tertua kedua di Indonesia itu berkaitan erat dengan sejarah penguasan kota ini oleh Pemerintahan Kolonial Belanda.


Penguasaan daerah Bukittinggi oleh Belanda diikuti dengan usaha membuat dan menyediakan berbagai sarana bagi para penguasa Belanda yang ada di kota ini. Untuk melepas lelah dan bersantai setelah bekerja, maka Pemerintah Kolonial Belanda membuat sebuah taman, kebun bunga yang mereka kembangkan hingga menjadi sebuah kebun binatang.


B. Berkuasanya Pemerintahan Kolonial Belanda di Bukittinggi.


         Bangsa Belanda pertama kali mendarat di Padang tahun 1818. Mereka berusaha mendapatkan kedudukan di daerah Sumatera Barat dengan jalan melibatkan diri dalam konflik yang terjadi antara kelompok adat dan kelompok agama. Bahkan Belanda ikut aktif membantu kelompok adat menekan kelompok agama dalam Perang Paderi 1821-1837.

 

         Belanda melakukan usaha penekanan kelompok agama di sekitar Agam, Pasaman yang ditindak lanjuti dengan pembuatan perjanjian persahabatan dengan Penghulu Kurai Lomo Jorong yang berisi: adanya kerjasama dan usaha bersama kelompok adat (yang diwakili penghulu) dengan Belanda dalam menekan kelompok agama. Kesepakatan ini dibuat tahun 1820, dan hasil perjanjian ini ditindak lanjuti dengan pemberian izin oleh Penghulu Kurai Lomo Jorong pada Belanda untuk mendirikan benteng di daerah ini dalam tahun 1825/1826. Saat itu Kapten Bauer mendirikan Benteng Sterreschant yang kemudian lebih dikenal dengan Benteng Fort De Kock di Bukit Jirek. Benteng inilah yang menjadi cikal bakal penguasaan dan perluasan kekuasan Belanda di Bukittinggi, Agam dan Pasaman. Penguasaan Belanda berlanjut ke Bukit Sarang Gagak, Bukit Tambun Tulang, Bukit Cubadak Bungkuak, dan Bukit Malambung yang merupakan areal pengembangan Kebun Binatang Bukitinggi.
Didaerah-daerah penguasaan Belanda itulah didirikan beberapa kantor, rumah pemerintah sipil, rumah rapat, kompleks kuburan, pasar, sarana dan prasarana transportasi, sekolah serta sarana rekreasi. Untuk memperkuat kedudukan Belanda mereka memanfaatkan pemimpin-pemimpin tradisional Minangkabau. Untuk daerah Bukittinggi, Agam yang disebut dengan Staats Gementee Fort De Kock dikepalai oleh seorang Controleur yang dijabat oleh orang Belanda. Mereka memiliki hubungan yang dekat dengan masyarakat terutama pemimpin-pemimpin adat di nagari-nagari Agam, Bukittinggi. Masyarakat menyebutnya dengan “Tuanku Kumentur” (Tuanku Kumandua), ia sangat ditakuti, berhak mengeluarkan instruksi-instruksi yang harus dijalankan rakyat, mengeluarkan hukum bagi pelanggar.


C. Kebun Bunga (Strom Park) sampai Kebun Binatang Bukittinggi (Fort De Kocksche Dieren Park).

         Bukit Malambuang adalah salah satu bukit yang terdapat di kawasan Bukittinggi, dengan posisi yang bersebelahan dengan Bukit Jirek (Benteng Fort De Kock) dan Bukit Kubangan Kabau (Pasar Atas sekarang). Berdasarkan Meetderief Nomor 78 Register No 353 tanggal 30 Agustus 1933 Bukit Malambung memiliki luas 33.620 M 2, dengan ketinggian 924 M diatas permukaan laut dengan iklim pegunungan (sub tropis) bersuhu 18-22 °C. Di puncak bukit ini terdapat dataran yang sering dipakai anak nagari untuk melakukan pertandingan adu perkutut, manaikkan layang-layang (melambungkan layang-layang), dan berbagai permainan lain. Sedangkan dibagian lereng lainnya terdapat area pemakaman penduduk di sekitar kawasan Bukit Malambuang. Karena panorama bukit yang begitu indah, maka disore hari anak nagari dan masyarakat Bukittinggi sering bersantai dan melepas lelah di area puncak bukit ini. Dari sana mereka dapat menikmati panorama Gunung Merapi, Gunung Singgalang, Gunung Sago, Gunung Pasaman, dan Ngarai Sianok. Bukit malambuang juga dijadikan sebagai tempat mengembalakan kambing, sapi dan domba milik orang-orang keling (keturunan India).


Sejak diberikannya kekuasaan atas tanah di Bukit Jirek oleh Penghulu Kurai Limo Jorong pada Belanda, apalagi setelah keluarnya Surat Keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda No. 1 Tahun 1888, yang berisi tentang perluasan penguasaan Belanda di Bukittinggi secara otomatis mereka telah memiliki hak dalam pengelolaan beberapa bukit di daerah Bukittinggi. Perluasan kekuasaan Belanda ini diistilahkan masyarakat dengan “tajua nagari ka Bulando”.


Karena ketertarikan atas keindahan panorama di Bukit Malambuang serta telah adanya kekuatan hukum yang dimiliki Belanda, maka Controleur Belanda di Bukittinggi yang bernama Gravenzanden melakukan pengembangan bukit ini dengan menjadikannya kebun bunga “strom park”. Atas perintahnya semak-semak di Bukit Malambuang dibersihkan, dilanjutkan dengan pemindahan kuburan masyarakat yang terdapat di area ini. Setelah itu ditanamlah berbagai jenis pohon, bunga, pembuatan taman-taman, bangku-bangku sebagai tempat bersantai. Bahkan di tengah-tengah tanah lapang di puncak bukit dibuatlah sebuah lapangan tenis yang dinamai Lapangan Tenis Baan. Pekerjaan untuk pembersihan area bukit, terpaksa memindahkan kuburan masyarakat. Untuk itu diberikanlah ganti rugi untuk pihak keluarga sebanyak 5-20 gulden. Setelah dilakukannya perubahan dan perbaikan ini, ternyata kebun bunga lebih diperuntukkan bagi para penguasa Belanda di Bukittinggi. Karena area kebun bunga hanya dijadikan sebagai tempat beristirahat, melepas lelah disore hari maka taman ini tidak memiliki pengelola secara resmi. Penamaan kebun bunga ini masih akrab dengan masyarakat Sumatera Barat sampai tahun 1980-an, masyarakat menyebutnya dengan “kabun bungo”.


Karena makin kuatnya determinasi kekuasaan Belanda di Indonesia dan termasuk di Bukittinggi ternyata ikut memberi pengaruh pada perubahan dan arah kebijakan pemerintah Belanda terhadap kebun bunga. Hal ini dapat dilihat dengan diberikannya hak bagi pengembangan taman bunga pada pihak yang tertarik untuk memperbaikinya. Drh. J. Heck seorang dokter hewan di kota Bukittinggi, Groeneveld seorang Asisten Resident Van Agam yang merangkap sebagai Voortter-Gemeente-Raad Fort De Kock, J.H Schalling merupakan sekretaris Van de Geemente-Raad Fort De Kock, Edwar Jacoboan seorang hartawan berkebangsaan Belanda. Mereka berusaha menjadikan kebun bunga (strom park) yang dikembangkan sejak tahun 1900 untuk dijadikan kebun binatang.


Sebuah hal menarik yang pernah terjadi di Indonesia adalah dengan didatangkannya arsitek Belanda ke Indonesia pada tahun 1900-an, mereka bekerja di kotamadya (gemente) di seluruh Indonesia. Sebagai pola umum pada kota yang dikembangkan oleh para arsitek Belanda, mereka berusaha membuat sebuah taman kota dan tempat bersantai di daerah kotamadya yang dikembangkan. Nampaknya kebijakan dan usaha permbaharuan oleh para arsitek Belanda ini juga terjadi di Bukittinggi sehingga pemerintah Hindia Belanda memberi peluang agar kebun bunga dikembangkan menjadi kebun binatang sekaligus sebuah area taman kota untuk sarana rekreasi dan bersantai.


Karena berbagai dukungan itu, maka tanggal 3 Juli 1929 kebun bunga (strom park) dirubah dan dikembangkan menjadi kebun binatang yang dinamai “Fort De Kocksche Dieren Park” atau Kebun Binatang Bukittinggi, sejak itulah dibangun kandang-kandang yang bagus (dimasa itu) dan permanen untuk penempatan hewan-hewan koleksi kebun binatang. Pada tahap awal pembangunan kebun binatang ini dibuatlah kandang-kandang binatang koleksi dengan bentuk persegi sebelas. Tiap sudut ditarik batas ketengah pohon beringin yang merupakan pusatnya. Pada bulan Juli1929 itu, Kebun Binatang Bukittinggi diisi dengan hewan koleksi sederhana seperti: burung, kelinci, ayam hutan, dan kuaw. Karena makin banyaknya jenis koleksi hewan burung yang terdapat di kebun binatang, maka A.Murad Sutan Batuah, seorang kepercayaan Belanda di kebun binatang memperbaiki kandang-kandang burung agar lebih baik dan aman dari gangguan tikus. Kemudian dilanjutkan dengan pembatasan area Bukit Malambuang dengan kawat berduri sehingga anak nagari yang biasa bermain disana menjadi terhalang dan tak dapat lagi menggunakan lokasi ini sebagai tempat bermain. Untuk perkembangan selanjutnya dibuat pula kandang rusa, kandang kasuari, kandang kambing hutan, kandang singa, dari terali besi bekas penjara militer Belanda di Lubuk Basung.


Dalam mendatangkan koleksi-koleksi hewan baru pihak pengelola kebun binatang dibantu pula oleh Groeneveld yang merupakan Asisten Resident Agam dan merangkap Voorzitter Gemeente-Raad Fort De Kock dapat dengan mudah mendatangkan satwa-satwa yang di butuhkan dan ditemukan dari sekitar kawasan Agam dan Bukittinggi. Tentu dapat kita bayangkan bagaimana keadaan alam dan satwa liar dimasa itu tentu jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Lingkungan yang masih asri, perburuan yang masih kurang, tentu membuat koleksi kebun binatang dapat dilengkapi dengan mudah. Dan sebuah budaya orang-orang Belanda dimasa penjajahan yang mendukung pengembangan kebun binatang adalah kebiasaan berburu hewan-hewan liar di daerah-daerah perbukitan yang hasil buruannya diserahkan pada pihak pengelola kebun binatang.


Dibidang kepemimpinan dan pengelolaan Kebun Binatang Bukittinggi ternyata Belanda tidak main-main, ia memilih dan mempercayakan kepemimpinannya pada A.Murad St. Batuah, seorang pribumi yang dinilai memiliki profesionalisme dan integritas yang tinggi bagi pengembangan kebun binatang tersebut. Ia dipercaya dari tahun 1929-1932. Sebagai pemimpin pertama kebun binatang ia dinilai cukup berhasil. Setiap kegiatan dan usahanya dilaporkan pada Drh,J. Heck, Groeneveld, J.H. Schalling, Edwar Jacoboan yang bertindak sebagai tim pengontrol dan penilai keberhasilan institusi ini.
Setelah periode kepemimpinan A. Murad St.Batuah, beliau digantikan oleh Van Ommen dari tahun 1932-1933. Dimasa kepemimpinannya beliau berhasil meningkatkan jumlah koleksi kebun binatang karena adanya tenaga ahli dan ketersidiaan dana. Setelah periode kepemimpinan Van Ommen ia digantikan oleh Opstal yang merupakan seorang bekas tentara Belanda (eks KNIL) . Dimasa kepemimpinannya dari tahun 1933 ternyata kebun binatang ini mengalami masa gemilang dengan mampu melengkapi jumlah koleksi kebun binatang. Kebun Binatang Bukittinggi mampu mensuplai 150 ekor binatang koleksi khas Sumatera ke Kebun Binatang Surabaya yang telah berdiri sejak tahun 1916 dan untuk kompensasinya Kebun Binatang Surabaya mengirim koleksi binatang khas Indonesia timur ke Bukittinggi. Tahun 1934 pimpinan kebun binatang digantikan oleh Smith, 1935 dipimpin oleh Nutzman, Schap tahun 1936, dan Drh. Bernecker merupakan dokter hewan dari Belanda yang bertugas di Bukittinggi yang memimpin dari tahun 1936-1937. Dalam periode 1931-1935 dilakukan pembangunan kandang-kandang baru yang diisi dengan harimau, beruang hitam, macan tutul, orang hutan, ular, anoa, buaya, dan banteng liar. Dari segi pengunjung diperiode ini hanyalah untuk orang Belanda[28]. Tempat ini hanya diperuntukkkan bagi para penguasa Belanda yang ingin bersantai.


Masa kepemimpinan Nutzman tahun 1935, munculah ide untuk melakukan penambahan sarana di Kebun Binatang Bukittinggi (Fort de Kocksche Dieren Park) yaitu usaha pembangunan rumah gadang baanjung di area kebun bintang. Untuk peletakan batu pertamanya dilakukan tanggal 1 Juli 1935. Rumah Gadang Baanjuang ini berukuran 36,5 x 10 M2 dengan 7 gonjong. Rumah gadang ini bertipe gajah maharam yang merupakan jenis rumah koto piliang yang memiliki anjungan di bagian kiri dan kanan. Untuk melengkapi dengan arsitektur standar minang, maka tahun 1955/1956 dilengkapi dengan pembangunan rangkiang sibayau-bayau, sitinjau lauik, dan ditambah dengan dibangunnya rumah tabuah. Sebagai fungsi utamanya rumah gadang ini dijadikan sebagai museum yang mengoleksi barang-barang sejarah dan barang budaya.


Rumah gadang ini di kerjakan oleh tukang-tukang dari Panyalaian Padang Panjang, Lasi IV Angkek Candung. Kayu sebagai bahan utama didatangkan dari daerah sekita Bukittinggi, atap menggunakan ijuk yang dibawa dari Batusangkar dan Solok. Setiap ukiran memiliki nilai filosofi dan estetika Minangkabau. Untuk melengkapi prasarana maka dibangun pula sebuah restoran oleh pengusaha Cina di area kebun binatang ini pada tanggal 1 September 1935.


Tahun 1937-1938 tidak diketahui siapa pemimpin kebun binatang, barulah tahun 1938 kebun binatang ini dipimpin oleh Drh. Bernecker sampai tahun 1945. Beliau memimpin kembali kebun binatang ini untuk yang kedua kalinya. Dimasa kepemimpinan nya yaitu tahun 1941 datanglah pemimpin Kebun Binatang Surabaya Scoemacher ke Bukittinggi dan ia berkujung ke Kebun Binatang Bukittinggi. Setelah melihat keadaan Kebun Binatang Bukittinggi, Scoemacher memuji Kebun Binatang Bukittinggi “inilah kebun binatang yang terbaik dan terindah di Hindia kita”. Hal ini merupakan sebuah penghargaan yang diberikan atas kelengkapan koleksi, kebersihan dan keindahan Kebun Binatang Bukittinggi yang waktu itu telah memiliki 155 macam koleksi satwa. Kebersihan kebun binatang dilengkapi dengan adanya air bersih untuk minum dan mandi satwa yang dipelihara sehingga menghasilkan banyak keturunan. Dari segi kedudukan organisasi kebun binatang ini yang disebut dengan Dieren Park / Dieren Tuin Fort De Kocksche (Kebun Binatang Bukittinggi). Organisasi ini memiliki status sebagai bagian dari pemerintahan Staad Gemeente Fort De Kock yang memiliki 21 orang pegawai. Sehingga dari segi kedudukan dan perhatian pemerintah tentunya akan lebih optimal.


Tahun 1941 pengelolaan kebun binatang Bukittinggi yang telah ditata oleh Belanda, memiliki struktur organisaasi tersendiri yang telah membagi tugas dan tanggung jawab masing-masing bagiannya.
Direktur : Drh.MF.Berbecker


(merangkap kepala dinas pasar dan rumah potong Fort De Kock)Struktur Organisasi Kebun Binatang Bukittinggi tahun 1941.

Mandor: Thahar Sutan Mudo


Kepala Bagian Rumah Gadang: Nawi Sutan Bagindo


Bendahara: Makmur Datuiak Palindih


Kepala Bagian Bangunan: Datuak Magek


Penjual karcis: Apan Sutan Sari Pado


Pekerja Biasa : 15 Orang

 

Karena makin banyaknya masyarakat yang tertarik untuk mengunjungi kebun binatang maka mulailah dilakukan pengembangan dengan memberi kesempatan bagi masyarakat umum untuk bisa masuk dan melihat koleksi kebun binatang. Pada tahun 1941 diberlakukanlah karcis masuk bagi pengujung. Karcis untuk dewasa 10 sen, untuk anak-anak 5 sen ( sebagai perbandingan harga nasi bungkus waktu itu adalah 2,5 sen). Sedangkan untuk anggaran dana pemerintah Hindia Belanda untuk kebun binatang adalah 800 gulden (sebagai perbadingan harga emas waktu itu adalah, 1 emas 1,6 gulden) dan dana didukung sepenuhnya oleh Assistant Residen Agam waktu itu yaitu Burgemeester Nydam dan sekretaris walikota Fort De Kock Grvutes[34]. Karena mahalnya harga karcis masuk pada waktu itu, maka yang mengunjungi kebun binatang hanyalah dari kelompok orang-orang menengah ke atas sedangkan bagi masyarakat biasa, umumnya hanya mengunjungi kebun binatang sekali dalam setahun yaitu saat hari raya Idul Fitri dan sebagian ada yang berkunjung saat sanak saudara pulang dari rantau dan ingin bertamasya di Bukittinggi[35].


D. Kebun Binatang Bukittinggi dimasa Pendudukan Jepang dan Diawal Kemerdekaan.


Tahun 1942 Jepang telah berkuasa di Indonesia, termasuk di Kota Bukittinggi. Daerah ini diberi nama “Bukittingggi Shi Yasuko”, yang dari segi daerah kekuasaanya lebih luas dari masa pemerintahan Kolonial Belanda. Dengan mencakup daerah Kurai Limo Jorong, Ngarai Sianok, Gadut, Kapau, Ampang Gadang, Batu Taba, Bukit Batabuah, dan beberapa daerah yang masuk dalam daerah Agam sekarang[36]. Keadaan ini bertahan sampai tahun 1945. Dimasa kekuasaan Jepang, Bukittinggi dijadikan sebagai tempat kedudukan Komandemen Militer se Sumatera dengan komandonya yang bergelar Saiko Sikikankakka dibawah Jendral Kabaya Shi.


Diawal kedatangan Jepang ke Kota Bukittinggi, tepatnya 21 Maret 1942 dengan semboyan “Asia Untuk Asia” mulai mendapat simpati sebagaian masyarakat. Namun seiring dengan penguasannya di Indonesia yang telah melakukan berbagai kekerasan, mulailah muncul pergolakan dan usaha penentangan terhadap kekuasaan Jepang, termasuk di Bukittinggi. Perlawanan terhadap Jepang di Kota Bukittinggi yang terkenal dilakukan oleh Syamsuddin dan Abbas Rahman.


Terjadinya kekacauan politik di Kota Bukittinggi, berdampak buruk terhadap pengelolaan kebun binatang. Jepang sama sekali tidak memperhatikan keadaan kebun binatang, malahan mereka merusak saluran air untuk kebun binatang dan mengalihkannya untuk keperluan tentara Jepang. Banyak satwa-satwa penghuni kebun binatang yang ditembaki dan di bayonet. Sekeliling kebun binatang dibuat lobang-lobang untuk pertahanan tentara jepang di Bukittinggi. Terowongan atau lobang-lobang yang dibuat Jepang di sekitar area kebun binatang terhubung dengan Lobang Jepang yang dibuat dengan kerja paksa dan penderitaan bagi pekerjanya yang berasal dari orang-orang Sumatera Barat. Pembuatan Lobang Jepang yang dilakukan di Bukittinggi adalah usaha mengembangkan kota bawah tanah dan sebagai tempat pertahanan Jepang. Titik-titik penyebaran lobang kota bawah tanah ini menyebar di sekitar kota Bukittinggi.
Sebagai pengaruh dari minimnya perhatian terhadap kebun binatang banyaklah satwa-satwa peliharaan yang mati, dibunuh, dan tak terawat, sehingga banyak kandang-kandang yang satwa yang kosong.
Dalam perjalanan sejarah selanjutnya, Jepang kalah dalam perang menghadapi sekutu yang berakibat pada lemahnya kekuatan Jepang di Indonesia. Hal ini dimanfaatkan sebaik mungkin oleh pemimpin-pemimpin Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaan negeri ini. Pada tanggal 17 Agustus 1945 berkumandanglah proklamasi Indonesia yang menjadi tonggak sejarah lahirnya Indonesia merdeka.
Pasca kemerdekaan Indonesia, politik tidak serta merta mengalami perubahan kearah kestabilan. Indonesia sebagai sebuah negara baru sibuk berbenah dan mempersiapkan badan-badan yang diperlukan untuk sebuah Negara merdeka. Selain itu keadaan masyarakat sat itu sangat memperihatinkan, mereka hidup menderita, tertindas, kelaparan dan nyaris tanpa pakaian.


Keadaan kebun binatang sangat menghawatirkan, tanpa pengelola. Demi menjaga dan menyelematkan Kebun Binatang Bukittinggi maka ketua Komite Nasional Indonesia kota Bukittinggi yaitu: M.Z. Dt. Maharajo menunjuk A. Murad St. Batuah sebagai pimpinan kebun binatang[44]. Karena keadaan yang belum aman, maka dimasa kepemimpinan A. Murad St. Batuah setelah kemerdekaan ini tidak banyak perubahan yang dapat beliau perbuat. Masa jabatan beliau dimulai tahun 1945-1949.
Melihat perubahan situasi politik di Indonesia sejak kedatangan Jepang tahun 1942 sampai periode awal kemerdekaan tahun 1949 dapat disimpulkan bahwa keadaan politik, ekonomi, sosial yang tidak stabil menyebabkan pengelolan kebun binatang mengalami masalah besar bahkan nyaris ditutup karena ketiadaan pengelola.

Tour de Singkarak 2009

May 4th, 2009

Guna mengisi Visit Indonesia Year 2009, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menggelar event internasional bertajuk “Tour de Singkarak 2009″ pada tanggal 28 April s/d 3 Mei 2009 dengan menempuh jarak 455,6 Km dalam empat etape, Padang-Bukittinggi (92,3km), Bukittinggi-Sawahlunto (85,1km), Sawahlunto-Danau Singkarak (90,2km) dan Danau Singkarak-Danau Kembar-Danau Singkarak (188km) dengan total hadiah yang diperebutkan US $ 60.000.

Menurut Sapta Nirwandar Dirjen Pemasaran Depbudpar RI yang sekaligus Panitia Pelaksana, lebih jauh tujuan penyelenggaraan event ini adalah mempromosikan pariwisata Indonesia khususnya pariwisata Sumatera Barat ke Mancanegara. 15 Tim Mancanegara yang ikut adalah Thailand (1tim), Selandia Baru (1tim), Jepang (2tim), China (1 tim), Filiphina (1 tim), Iran (2 tim), Qatar (1 tim) China Taipei (1 tim), Tabriz Petrochemichal (1 tim), Malaysia (2 tim), Australia (1 tim), serta Hongkong (1tim) sementara dari Indonesia sendiri ada 10 tim Custom cycling Club (CCC), Pengrov ISSI Sumbar, Polygon Sweet Nice (Jawa Timur) Jabar Cycling Team (jawa Barat), Kutai Kartanegara Cycling Club (Kaltim), Araya Indonesia (Sidoarjo), Program Atlit Andalan P.A.L-Indonesia, Dodol Picnik Garut, Pengrov ISSI Yogyakarta dan BIntang Karanggan Cycling Club Jakarta.

Ikut menyemarakkan tour ini, panitia juga menggelar konser musik “The Soul of Minangkabau” yang dipimpin Dwiki Dharmawan yang berkolaborasi dengan musisi Sumatera Barat.

Lobang Jepang Bukittinggi

January 8th, 2009

Lobang Jepang merupakan salah satu objek pelancongan yang ada dalam Kota Bukittinggi dan merupakan peninggalan sejarah dari kependudukan Jepang selama berada di Bukittinggi.

Karena Bukittinggi yang sangat strategis, terletak di tengah - tengah Pulau Sumatera, maka penjajah Jepang menetapkan Kota Bukittinggi sebagai Pusat Komando Pertahanan Tentara Jepang di Sumatera (Seiko Sikikan Kakka) yang dipimpin oleh Jenderal Watanabe.

Sebagai kubu pertahanan militer bagi Jepang dibuatlah terowongan dibawah jantung kota Bukittinggi, disamping berfungsi sebagai pertahanan juga dipersiapkan sebagai penyimpan amunisi, barak, ruang makan, rumah sakit, ruang sidang dan dapur, yang jumlah keseluruhan ruangan 27 buah dan merupakan satu komplek lengkap, seperti denah yang dapat dilihat pada dinding pintu masuk.

Panjang lobang yang terdapat dilokasi Panorama ini lebih kurang 1400 meter, sedangkan panjang keseluruhan yang berada di bawah Kota Bukittinggi diperkirakan lebih kurang sekitar 5000 meter, dengan demikian yang terawat/terpelihara baru 30% dari lobang yang ada.

Kegunaan utama dari Lobang Jepang ini adalah sebagai basis pertahanan militer penjajah Jepang dari serangan Sekutu maka pembangunannya sangat dirahasiakan, dan tidak seorangpun yang mengetahui secara pasti kapan lobang jepang ini mulai dibangun. Hanya dapat diperkirakan beberapa bulan sesudah Maret 1942, saat Jepang merebut Kota Bukittinggi dari tangan Pemerintah Belanda.

Tenaga kerja kasar untuk mengali Lobang ini diambil dari orang - orang Indonesia yang ditangkap dari daerah lain, seperti dari pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera Selatan dan lain sebagainya, sedangkan hasil tangkapan dari Bukittinggi sendiri di bawa pula ke daetrah lain untuk dipekerja paksakan pula pada proyek - proyek lainnya, seperti le Loge untuk m,embuat jalan kereta api yang akan menghubungkan Muaro Sijunjung dengan Pekanbaru Riau. Namun pekerjaan ini tidak kunjung slesai, karena Jepang keburu kalah ditangan tentara Sekutu.

Tenaga teknis dalam pembangunan Lobang ini diambilkan dari orang - orang Indonesia yang bekerja di Tambang Batu bara Ombilin Sawahlunto yang berasal dari pulau Jawa.

Semua tenaga kerja kasar tidak sati orangpun yang dapat menyelamatkan diri, semuanya meningal disebabkan kekurangan makanan dan siksaan dari tentara Jepang. sehingga kerahasiaan Lobang tetap terpelihara.

Sekalipun Lobang ini dapat diselesaikan, namun belum sempat dimanfaatkan secara sempurna, karena Jepang keburu bertekuk lutut kepada tentara Sekutu akibat Dua Buah Atom yang dijatuhkan Tentara Sekutu di Kota Nagasaki dan Hirosima pada tanggal 7 dan 8 Agustus 1945, dan berlanjut dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno - Hatta.

Saat ini Lobang Jepang ini cukup ramai dikunjungi oleh wisatawan baik Mancanegara maupun Nusantara dan merupakan objek wisata favorite di Bukittinggi dan bahkan Sumatera Barat.

kondisi dalam terowongan

Dari pintu gerbang, kita menurunbi anak tangga sebanyak 135 buah, apabila anak tangga ini tingginya rata - rata 20 cm, dengan demikian 135 anak tangga berarti kita telah turun setinggi 27 M. jika kita bandingkan lagi tempat kita berdiri sekarang dengan jalan yang ada diatas kita, mempunyai perbedaan tinggi lebih kurang 5 M. dari perhitungan ini diketahuilah bahwa dasar Lobang berkisar antara 30 sampai 40 M dari permukaan tanah. Kedalaman ini sudah cukup aman dinilai oleh Jepang terhadap serangan udara dari Tentara Sekutu.

Jam Gadang Berselimut Marawa

January 7th, 2009

Penutupan Jam Gadang dengan Marawa pada Tahun Baru 2009 yang dilakukan Pemerintah Kota Bukittinggi pada tanggal 31 Desember 2009 ternyata cukup efektif guna mengantisipasi keramaian disekitar lokasi Jam Gadang tersebut. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Bapak Walikota dan seirama dengan Ketua LKAAM ketika upacara penutupan tersebut, bahwa Penutupan Jam Gadang tersebut merupakan “demi kemaslahatan ummat”.

Walaupun tahun baru tanpa dentingan Jam Gadang, tetapi tahun baru di Bukittinggi tetap meriah dan semarak karena adanya hiburan gratis untuk masyarakat kota dan pengunjung kota wisata ini di lapangan Kantin.

Terimakasih Divusi

December 6th, 2008

Adanya permintaan peserta pemberitahuan untuk mengikuti pembuatan Blog oleh Depbudpar melalui Lapi Divusi Bandung, saya sangat senang sekali. karena udah lama ingin tahu gimana sih caranya buat Blog, apalagi yang akan sebagai tutornya blogger terkenal di Indonesia Bpk.Nukman Luthfi, Rendy Maulana dan juga ibuk Hilda dari Harian Bisnis Indonesia.

Kegiatan dilaksanakan tanggal 25 s/d 27 di Hotel Denai Bukittinggi, disamping dapat menikmati suasana hotel yang benar - benar nyaman, makan siang yang enak, semua peserta ditantang untuk aktif dan kreatif bertanya tentang segala sesuatu yang telah diterangkan dan dapat hadiah lagi. kebetulan saya juga menikmati hadianya berupa Flash disk dan juga dapatkan kaos cantik warna hitam dari WWW.indonesia.travel, wow..makasih ya divusi . Bukan hanya itu, peserta juga ditantang untuk mendapatkan hadiah berupa notebook lenovo dan modem bagi siapa yang mempunyai blog lebih menarik.

Rasanya hampir nggak percaya, aku keluar sebagai pemenang, begitupun leli, bagus, aditya dan ilham, karena memang udah lama aku inginkan laptop tersebut. Terima kasih PT Lapi Divusi, mas Budi dari Depbudpar, semua panitia dan tutor juga seprizal yang banyak membantu. Laptop-nya sudah saya terima hari sabtu tanggal 6 Desember 2008 kemaren, keren banget… dan sekarang saya juga sudah bisa membuat Blog.

Pedati Nusantara event tahunan Bukittinggi

December 2nd, 2008

Pedati, singkatan dari “Pesta Budaya seni Pameran Dagang dan Industri”, merupakan event tahunan yang dilaksanakn oleh Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Bukittinggi. Untuk tahun 2008 yang mengusung thema “Menggalang Keutuhan Negara Kesatuan Berbasiskan Kebudayaan dan Kerukunan Multi Etnis Sebagai Implementasi Sumpah pemuda 28 Oktober 1928″ telah dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober s/d 6 Nopember 2008 yang lalu di lapangan Wirabraja Bukittinggi dan berlangsung dengan sukses.

Event ini dilahirkan oleh Pemrakarsa yang menamakan dirinya Pemuda Pencinta Persatuan Bangsa dimana mereka menyadari keberadaan Bukittinggi sebagai daerah Tujuan Wisata Utama di Sumatera Barat, yang memerlukan suasana kondusif dan mengingat kota kecil yang sejuk ini dihuni olehmasyarakat multi etnis, dengan beragam budaya yang sangat berbhineka yang dikhawatirkan dapat dipicu “SARA” hal inilah yang mendorong Pemrakarsa menggagas PEDATI dalam bentuk Pesta Budaya Multi Etnis yang ternyata mampu menjadi daya tarik wisata dan pada tahun 2004 mendapat Award Kepariwisataan Indonesia dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI dengan julukan “Pesta Budaya Rakyat Pemersatu Bangsa” dan tahun 2008 ini pelaksanaannya bertepatan dengan peringatan 80 tahun sumpah Pemuda.

Peserta yang ikut berpartisipasi pada kegiatan Pedati Nusantara tahun ini antara lain dari Luar Negeri Singapura, Dewan Bandaraya Kuala Lumpur, Majelis Bandaraya Melaka Bersejarah, Trenggan, Negeri sembilan Darul Khusus , Luar Propinsi - Medan, Tapanuli Selatan, Padang Sidempuan, Kuantan Singingi, disamping paguyuban yang ada di Kota Bukittinggi juga diikuti oleh Kabupaten dan Kota yang ada di Sumatera Barat.

Sebagaimana tahun -tahun sebelumnya bidang Pameran masih ditangni oleh PT Oasis Mitra Pratama (OMP) Jakarta dengan fasilitas tenda Roder AC, dan kerucut. Pada tahun 2009 tetap dilaksanakan dan dimulai pada tangal 28 Oktober.

Pesona Wisata di Bukittinggi

November 29th, 2008

Bukittinggi merupakan salah satu kota di Sumatera Barat. Kota sejuk ini dapat ditempuh 1,5 jam perjalanan dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) dengan perjalanan yang menyenangkan yang ditunjang dengan sarana transportasi yang memadai dan pemandangan yang menakjubkan dikiri kanan jalan. Sepanjang perjalanan ditemui alam yang masih alami dan terjaga keasriannya, menyaksikan air terjun Lembah Anai yang eksotis serta rumah - rumah penduduk yang berarsitektur Minangkabau, sungguh pemandangan yang menakjubkan. Kota Bukittinggi memiliki 58 sarana akomodasi mulai dari kelas Home Stay hingga hotel Berbintang, Rumah Makan, Coffe Shop dan Restoran serta Biro Perjalanan maupun transportasi tradisional Bendi dapat ditemui dengan mudah di dalam kota, begitupun fasilitas wisata lainnya seperti money changer, transportasi, warnet, ataupun Touris informasi semua dapat dijangkau dengan mudah. Uniknya, Bukittinggi yang terkenal dengan Land Mark-nya Jam Gadang ini punya Objek Wisata di dalam kota, dapat ditempuh dengan jalan kaki sambil naik dan menuruni jenjang - jenjang peninggalan Belanda anda dapat mengunjungi Zoo pertama di Indonesia, Benteng Fort de Kock, Ngarai Sianok yang menakjubkan dan Lobang Jepang yang eksotis ataupun anda yang suka menyaksikan pagelaran kebudayaan di kota ini digelar setiap malamnya dengan durasi 100 menit, … Welcome to Bukittinggi………

Ngarai Sianok Objek Wisata alam yang menakjubkan bagi siapa yang memandanganya. Objek Wisata ini berjarak 1 Km dari pusat kota, dengan dilatar belakangi Gunung Merapi dan Singgalang, sungguh mempesona.

Jembatan Limpapeh merupakan jembatan penghubung antara Kebun Binatang dengan Objek Wisata Benteng Fort de Kock, dari jembatan ini dapat melihat keindahan alam Bukittinggi. Jembatan ini membentang di atas jalan Ahmad Yani yang merupakan tempat turis mancanegara melapaskan lelah dan beristirahat karena disini banyak cafeshop yang sesuai dengan selera mereka.


Benteng Fort de Kock, merupakan benteng peninggalan zaman pendudukan Belanda, benteng ini dibangun oleh tuan De Kock guna melindungi diri dari perlawanan semasa Perang Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Saat ini Benteng fort de Kock dijadikan asset wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan baik mancanegara maupun nusantara.

Taman Panorama, taman ini terletak dipinggir Ngarai Sianok. Dari taman ini juga dapat menikmati keindahan alam ciptaan tuhan yang begitu mempesona dan menakjubkan. Disini tersedia fasilitas umum yang dibutuhkan wisatawan, baik toilet, tempat ibadah, maupun toko - toko souvenir dll.

Museum Bundo Kanduang, Museum ini treletak di dalam Kebun Binatang “Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan”, di dalam Museum ini dapat ditemui bermacam - macam koleksi. Museum ini berarsitektur Minang Kabau, dengan lantai papan dan beratapkan ijuk serta didepannya terdapat 2 (dua) buah Rangkiang yang bernama si Bayau-Bayau dan Sitinjau Lauik.

Kebun Binatang Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan, ini merupakan kebun binatang tertua di Indonesia, dibangun pada tahun 1927. Kebun Binatang ini merupakan salah satu tempat favorite wisata keluarga di Bukittinggi. fasilitas yang ada seperti Mushalla, kios souvenir, permainan anak - anak dsb.

Rumah Kelahiran Proklamator Bung Hatta, terletak di Jalan Soekarno Hatta yang meruapakan tempat lahirnya Sang Proklamator. Dirumah ini dapat ditemui bermacam - macam koleksi foto Bung Hatta serta barang - barang peninggalan Bung Hatta yang masih tersimpan dengan baik.

Lobang Jepang, terletak di Taman Panorama di pinggir Ngarai Sianok, Lobang ini dibangun pada tahun 1942 masa pendudkan Jepang di Indonesia. Setelah direvitalisasi pada tahun 2004 yang lalu, Lobang Jepang ini merupakan objek wisata favorite wisatawan yang datang ke Bukittinggi.


Raflesia, bunga ini dapat ditemui di lembah Ngarai Panorama Baru arah Barat Bukittinggi. Disana dapat ditemui raflesia hidup di alam bebas yang masih terjaga keasriannya.

Hotel di Bukittinggi

  • The Hill (****) Jl.Laras Dt.Bandaro Telp.(0752) 35000
  • Pusako Hotel (****) Jl.Soekarno Hatta Telp. (0752) 32111
  • Denai Int’Hotel (***) Jl.A.Riva’i Telp.(0752) 32920
  • Balai Champago (***) Jl.Cempaka Inkorba Telp.(0752) 642580
  • Gran Malindo (*) Jl.Panorama Telp.(0752) 625824
  • Ambun Suri Hotel Jl.Panorama Telp.(0752) 34406
  • Gallery Hotel Jl.H.agus Salim Telp.(0752) 23515


Biro Perjalanan

- Raun Sumatera Jl.A.Yani No.99 Telp. (0752) 625172

- Shaan Holiday Jl. Pemuda Telp. (0752) 641100

- Cristal Tour Jl. Sudirman Telp. (0752) 627619

- Maju Indosari , depan Jam gadang Telp. (0752) 21671

Kalau anda butuh guide.. silahkan hubungi..

“kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Bukittinggi” Jl. Perwira No.54 Bukittinggi - Sumatera Barat Telp./ Faximile (0752) 21300 CP. Yulman, 081363492507 e-mail, w.son13@yahoo.co.id dan bukittinggi_tourism@yahoo.com

Kami Tunggu Kedatangan anda……………